• Anda Pengunjung ke-

  • Peta Lokasi

  • a

  • Karya tulis

  • Komentar Anda

    maziesolis45696 on A – Z success
    Alfa trophy on Benda Itu bernama Plakat.…
    Bodin Lingga@ Bintan… on Benda Itu bernama Plakat.…
    abdul aziz on Kisah Katak dan Rembulan …
    abdul latif on Hidup Mandiri
  • Motto hidup

  • Link

Kisah Katak dan Rembulan (Kiasan)

Semua bermula dari tatapan mata antara si Katak dengan si Rembulan. Tampaknya baru pertama kali ini si Katak merasakan gelora dalam dadanya yang disebabkan oleh tatapan itu. Sang Katak merasa terpesona dengan senyuman si Rembulan.

Tentu sebuah awalan yang manis dialami si Katak karena dia baru pertama kali ini merasakan perasaan yang menghangatkan hatinya. Dengan sikap yang baik yang ditunjukkan oleh Rembulan, si Katak berpikir kalau inilah surga. Inilah kebahagiaan. Rembulan selalu menyinari Katak di malam hari dan si Katak pun telah melayang memuja si Rembulan. Tanpa sadar si Katak pun bermimpi kalau dirinya kini telah meninggalkan rawa yang kotor itu, naik ke langit menemani Rembulan.

Sejenak yang awalnya hanya saling sapa, berlanjut curhat dan ngobrol. Hal ini membuat hati si Katak berbunga-bunga, tiada menyangka kalau si Rembulan akan menyambut baik perasaannya. Namun perlu diingat bahwa Katak tidak seharusnya di langit. Katak seharusnya di rawa. Dan Rembulan tetap bergelayut di langit yang tinggi itu. Si Katak pun hilang kesadaran. Tak peduli akan keadaan. Dia terus merindukan Rembulan dan berharap keadaannya kan lebih baik dan mereka berdua dapat bersama selamanya.

Namun, keadaan tiadalah seindah apa yang ada di benak si Katak. Biar bagaimanapun sang Rembulan tak kan pernah mencintai Katak. Rembulan punya bintang-bintang yang selalu menemaninya di langit sana. Mereka tampak serasi karena keduanya ada di langit.

Cinta memang tiada pernah dapat dihapus begitu saja. Ketika Katak menyadari hal ini. Akalnya pun seolah tertutup. Hatinya tiada lagi mendengarkan logika. Yang ada di hati, pikiran dan angannya hanya Rembulan.

Suatu ketika, sang Katak mengikuti kompetisi. Dia memenangkan kompetisi itu dan pihak penyelenggara mengharuskan Katak untuk pindah rawa dari tempatnya yang semula. Berbeda dengan rawa tempat tinggalnya yang dulu, dimana dia dapat setiap hari melihat Rembulan, di rawa yang baru ini, siKatak tiada dapat melihat sang Rembulan tiap hari. Dan kalaupun si Katak ingin melihat Rembulan, dia harus pergi ke tepi danau untuk melihat pantulan si Rembulan.

Keadaan inilah yang membuka mata hati, akal dan logika si Katak. Akalnya kembali menguasai dirinya. Di rawa yang baru inilah si Katak banyak berfikir dan merenungkan kalau selama ini dia hanya menipu diri mengharapkan sang Rembulan jatuh cinta padanya.

Memang, tiadalah sebuah dosa bila cinta merasuk ke dalam dada karena itu adalah fitrah. Namun, bila cinta itu hanya membuat hati menderita, hal ini haruslah dipikirkan kembali. Dengan akal sehat dan hati yang jernih. Kini, sang Katak pun sangat sadar akan hal itu.

Tapi, meski demikian, godaan Rembulan masih sangat kuat. Kesadaran si Katak sering kali hilang. Tak jarang si Katak sering melompat-lompat berharap akan sampai di tempat Rembulan. Si Katak terus menggunakan akalnya agar dapat menjangkau Rembulan, mulai dari menggunakan tangga, melompat hingga menggunakan kartu telepon yang sama dengan milik Rembulan. Semua itu dilakukan demi menarik perhatian dan hubungan yang baik dengan Rembulan.

Ketika sang Rembulan meminta bantuan di langit, sang Katak mencoba membuat tangga untuk dapat sampai ke sana dan membantu. Namun, biar bagaimanapun tangga yang dibuat Katak tidak sampai ke langit. Dan Katak pun tidak dapat membantu Rembulan.

Ketika sang Katak sadar bahwa dirinya dapat melompat, dia berusaha melompat ke langit menuju Rembulan. Namun akhirnya bukan sampai ke sana, melainkan kaki si Katak menjadi lumpuh.

Ketika si Katak tahu kalau si Rembulan menggunakan star1, si Katak pun mengikuti dan ketika Rembulan beralih ke flexi, si Katak pun masih berusaha tuk mengganti dengan flexi.

Tapi tetaplah usaha itu sia-sia. Katak seharusnya sadar kalo bintang-bintang di dekat Rembulan memiliki kekuatan, kelebihan, kesempatan dan posisi yang jauh lebih besar daripada Katak. Yang pasti jauh lebih gemerlap dan sederajat. Tiada sekalipun kesempatan bagi si Katak. Tidak sekali pun.

Sadarlah wahai Katak. Rembulan bukanlah pasangan yang diciptakan untukmu, tetapi untuk bintang-bintang di langit sana. Mungkin suatu hari Katak akan dapat menemukan pasangan yang tepat untuknya.

*Kutulis dengan akal sehat sebagai kisah yang syarat makna

4 Responses

  1. kok ada iklannya juga ya …
    nice artikel ..

  2. sedih juga ya kalo jadi katak. tapi mbok ya rembulan ga usah pake tepe2 ke katak kalo tau mereka ga mungkin bareng…

  3. aritkelnya dalem bgt, keren.. two thumbs up!

  4. ekspor ke fb ku doooong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: