• Anda Pengunjung ke-

  • Peta Lokasi

  • a

  • Karya tulis

  • Komentar Anda

    maziesolis45696 on A – Z success
    Alfa trophy on Benda Itu bernama Plakat.…
    Bodin Lingga@ Bintan… on Benda Itu bernama Plakat.…
    abdul aziz on Kisah Katak dan Rembulan …
    abdul latif on Hidup Mandiri
  • Motto hidup

  • Link

Merona Merah Pipinya…

Waktu itu menunjukkan pukul 16.30 saat Indosiar menyiarkan acara drama korea. Tak terasa, aku duduk di ruang yang nyaman dengan dentingan beberapa palu tanda tukang kayu sedang membetulkan rumah. Tapi ini bukan cerita tentang drama atau kisah tukang kayu. Ini adalah rona pipi yang merah dan dibayar darah.

room

Seringkali seseorang, bila ia bertemu dengan seseorang yang ia sayangi, apalagi orang itu adalah yang pertama dan satu-satunya yang membuat dada ini berdebar-debar, akan merasa senang, hati gembira, dan terjadi beberapa kejadian yang kan terpatri di dada, demikian pula yang terjadi pada diri katak, tatkala di rumah rembulan.

Bukan cerita tentang sebuah romantisme ala telenovela dimana terjadi peran seni akting antara 2 pemuda memadu kasih, tapi tentang perawatan “tulang kecil” yang ada di mulut si katak.

 

Berawal dari diagnostic (sehari bersama rembulan), meraju tali silaturrahmi hingga hari ke tiga (hari kedua di klinik, memulai pembantaian!) menuju rumah si rembulan. Dan hari ini, sore ini, pembantaian ke dua pun dilakukan. Meski dengan berdarah, di “tulang kecil” itu, katak tetap bersabar, bahwa ini semata-mata untuk membantu kesuksesan rembulan.

Tapi, yang namanya hati itu kan tidak lah mudah untuk dijaga, apalagi dekat seperti itu. Ada aja godaannya… mulai dari foto, kakak, hingga ibu. Semua membuat hati katak agak sedikit galau tatkala memasuki ruangan itu. Terlebih lagi, keluarga rembulan tak mengenal katak. Karena sebelumnya, katak tiada pernah berkunjung ke sana. Jangankan berkunjung, tahu rumahnya aja baru aja kok…;p

Semua itu dijalani katak dengan gugup, gugup situasi dan gugup bertumpah darah. Namun, setelah “pisau” itu dimasukkan ke mulut katak, dan beberapa kaca, diterangi sinar kecil dari senter sederhana, kepala rembulan mendekat, hingga katak dapat melihat mata bening itu, kegugupan itu perlahan mulai pudar… sedikit terangkat walau di perut seakan mau muntah…

Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya… darah mengalir deras dari mulut… berkali-kali harus berkumur… berkali-kali harus dimasuki pisau kecil untuk merawat “tulang kecil” itu… kepala semakin dekat, sampai-sampai katak bisa merasakan hembusan nafas rembulan….

Mimpikah ini… ilusikah ini…. Bayangankah ini… atau hanya berupa sebuah abstrak yang melayang di awan… apakah ini yang namanya bahagia sekaligus menderita…. Ya Allah… Hukumlah katak bila katak bersalah… Janganlah engkau siksa katak dengan kebahagiaan singkat yang hanya ilusi atau mimpi… janganlah engkau bebani katak dengan sesuatu yang katak tidak mampu memikulnya…. Ya Allah…. Maafkan katak…

One Response

  1. Sugi pikirannya romantis melulu dari dulu :p
    Bulan Ramadhan mikir ibadah donk :d
    hehehe..
    Met berjuang deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: