• Anda Pengunjung ke-

  • Peta Lokasi

  • a

  • Karya tulis

  • Komentar Anda

    maziesolis45696 on A – Z success
    Alfa trophy on Benda Itu bernama Plakat.…
    Bodin Lingga@ Bintan… on Benda Itu bernama Plakat.…
    abdul aziz on Kisah Katak dan Rembulan …
    abdul latif on Hidup Mandiri
  • Motto hidup

  • Link

DEFENISI JIHAD DAN HUKUM JIHAD

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Jihad adalah salah satu syi’ar Islam yang terpenting dan me-rupakan puncak
keagungannya. Kedudukan jihad dalam agama sangat penting dan senantiasa
tetap terjaga. Jihad fii sabiilillaah tetap ada sampai hari Kiamat.

Secara bahasa (etimologi) kata jihad berarti kekuatan usaha, susah payah
dan kemampuan. [1]

Menurut ar-Raghib al-Ashfahani (wafat th. 425 H) rahimahullahu: berarti
kesulitan dan kemampuan. [2]

Menurut istilah syar’i (terminologi) :

Al-Jihad artinya memerangi orang kafir, yaitu berusaha dengan
sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuan baik berupa perkataan
atau perbuatan.” [3]

Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.”

Jihad ada tiga macam:
1. Jihad melawan musuh yang nyata.
2. Jihad melawan syaithan.
3. Jihad melawan hawa nafsu.

Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur-an surat al-Hajj: 78,
at-Taubah: 41, al-Anfaal: 72. [4]

Menurut al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqalani (yang terkenal dengan
al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, wafat th. 852 H) rahimahullahu: “Jihad
menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi
orang-orang kafir.” [5]


Istilah Jihad digunakan juga untuk melawan hawa nafsu, syaithan, dan
orang-orang fasiq. Adapun melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama
Islam (belajar dengan benar), lalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya.
Adapun jihad melawan syaithan dengan menolak segala bentuk syubhat dan
syahwat yang selalu dihiasi oleh syaithan. Jihad melawan orang kafir dengan
tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq
dengan tangan, lisan dan hati. [6]

Perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin
dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” [7]

Jihad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu adalah:
“Mencurahkan segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai Allah Azza
wa Jalla dan menolak semua yang dibenci Allah.” [8] Kata beliau: “Bahwasanya
jihad pada hakikatnya adalah mencapai (meraih) apa yang dicintai oleh Allah
berupa iman dan amal shalih, dan menolak apa yang dibenci oleh Allah berupa
kekufuran, kefasikan, dan maksiyat.” [9]

Definisi ini mencakup setiap macam jihad yang dilaksanakan oleh seorang
Muslim, yaitu meliputi ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan
melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan- Nya.
Kesungguhan mengajak (mendakwahkan) orang lain untuk melaksanakan ketaatan,
yang dekat maupun jauh, muslim atau orang kafir dan bersungguh-sungguh
memerangi orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan selain
itu. [10]

Jihad tidak dikatakan jihad yang sebenarnya melainkan apabila jihad itu
ditujukan untuk mencari wajah Allah, menegakkan kalimat-Nya, mengibarkan
panji kebenaran, menyingkirkan kebathilan dan menyerahkan segenap jiwa raga
untuk mencari keridhaan Allah. Akan tetapi bila seseorang berjihad untuk
mencari dunia, maka tidak dikatakan jihad yang sebenarnya.

Barangsiapa yang berperang untuk mendapatkan kedudukan, memperoleh harta
rampasan, menunjukkan keberanian, mencari ketenaran (kehebatan), maka ia
tidak akan mendapatkan ganjaran dan tidak akan mendapat pahala. [11]

Jihad dalam Islam merupakan seutama-utama amal. Allah memerintahkan jihad
yang termaktub di dalam Al-Qur-an, yaitu pada surat al-Baqarah: 190, 193,
216, Ali ‘Imran: 142, an-Nisaa’: 95, at-Taubah: 73, al-Anfaal: 74, al-Hajj:
78, al-Furqaan: 52 dan ash-Shaaf: 11.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Amal
apa yang paling utama?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’
Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: ‘Jihad fii sabiilil-laah.’” [12]

Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Amal apa saja yang paling utama?” Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: “Beriman kepada Allah dan berjihad fii
sabiilillaah. ..” [13]

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya
seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad fii sabilillaah.” [14]

Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang berperang karena mengharap ghani-mah
(harta rampasan perang), ada yang lain berperang supaya disebut namanya, dan
yang lain berperang supaya dapat dilihat kedudukannya, siapakah yang
dimaksud berperang di jalan Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Barangsiapa yang berperang supaya kalimat Allah tinggi, maka ia fii
sabiilillaah (di jalan Allah).” [15]

HUKUM JIHAD
Hukum jihad adalah fardhu (wajib) dengan dasar firman Allah al-Qaahir:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci se-suatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu,
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

Ayat ini merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Azza wa Jalla bagi
kaum Muslimin, agar mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah Islam.

Muhammad bin Syihab az-Zuhri (wafat th. 124 H) rahimahullahu berkata: ‘Jihad
itu wajib bagi setiap individu, baik yang dalam keadaan berperang maupun
yang sedang duduk (tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila
dimintai bantuan, maka ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk maju
berperang, maka ia harus maju perang, dan jika tidak dibutuh-kan, maka
hendaklah ia tetap di tempat (tidak ikut).’” [16]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada waktu Fat-hu Makkah
(pembebasan kota Makkah):
“Tidak ada hijrah setelah Fat-hu Makkah (pembebasan kota Makkah), akan
tetapi yang ada adalah jihad dan niat baik. Bila kalian diminta untuk maju
perang, maka majulah!” [17]

Hukum jihad adalah fardhu kifayah [18] dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan
As-Sunnah yang shahih serta penjelasan ulama Ahlus Sunnah antara lain dari
Al-Qur’an surat an-Nisaa’: 95-96, at-Taubah: 122, al-Muzzamil: 20, dan
beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Empat Imam Madzhab dan lainnya telah sepakat bahwa jihad fii sabiilillaah
hukumnya adalah fardhu kifayah, apabila sebagian kaum Muslimin
melaksanakannya, maka gugur (kewajiban) atas yang lainnya. Kalau tidak ada
yang melaksanakan- nya maka berdosa semuanya. [19]

Para ulama menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi:

Pertama: Apabila pasukan Muslimin dan kafirin (orang-orang kafir) bertemu
dan sudah saling berhadapan di medan perang, maka tidak boleh seseorang
mundur atau berbalik.

Kedua: Apabila musuh menyerang negeri Muslim yang aman dan mengepungnya,
maka wajib bagi penduduk negeri untuk keluar memerangi musuh (dalam rangka
mempertahankan tanah air), kecuali wanita dan anak-anak.

Ketiga: Apabila Imam meminta satu kaum atau menentukan beberapa orang untuk
berangkat perang, maka wajib berangkat. Dalilnya adalah surat at-Taubah:
38-39. [20]

Jihad diwajibkan atas:
1. Setiap Muslim.
2. Baligh.
3. Berakal.
4. Merdeka.
5. Laki-laki.
6. Mempunyai kemampuan untuk berperang.
7. Mempunyai harta yang mencukupi baginya dan keluarganya selama
kepergiannya dalam berjihad. [21]

Bagi kaum wanita tidak ada jihad, jihad mereka adalah haji dan ‘umrah. Hal
ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Aisyah
Radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam:
“Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita wajib berjihad? Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Ya, kaum wanita wajib berjihad
(meskipun) tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu (ibadah) haji dan ‘umrah
’” [22]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Pasal “Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah Menegakkan Jihad Fii Sabiilillaah Bersama Ulil Amri”.
Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, PO
BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Foote Note
[1]. Lisaanul ‘Arab (II/395-396) , Mu’jamul Wasiith (I/142).
[2]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208).
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (I/319) Ibnul Atsir.
[4]. Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 208) oleh al-‘Allamah ar-Raghib
al-Ashfahani (wafat th. 425 H) t.
[5]. Fat-hul Baari (VI/3) oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
[6]. Ibid.
[7]. HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7) dan al-Hakim (II/81) dari Sahabat
Anas bin Malikz, dengan sanad yang shahih.
[8]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/192-193).
[9]. Ibid, (X/191).
[10]. Lihat al-Jihaad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/50) oleh
Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadiry, cet. II/Darul Manarah-Jeddah, th. 1413 H.
[11]. Fiq-hus Sunnah oleh Sayyid Sabiq (III/40) dan al-Wajiiz fii Fiqhis
Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 481) oleh ‘Abdul ‘Azhim Badawi.
[12]. HR. Al-Bukhari (no. 527) dan Muslim (no. 85 (137)) dari Sahabat
‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu
[13]. HR. Muslim (no. 84 (136)).
[14]. HR. Ahmad (II/32) sanadnya shahih. Lihat Musnad Ahmad (no. 4873) dan
Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (III/477).
[15]. HR. Al-Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad (IV/392,
397, 402, 405, 417) dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘ahu
[16]. Tafsir Ibnu Katsir (I/270).
[17]. HR. Al-Bukhari (no. 2783, 2825, 3077), Muslim (no. 1353), Abu Dawud
(no. 2480), at-Tirmidzi (no. 1590), an-Nasa’i (VII/146) dan Ahmad (I/266)
dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dan juga oleh Muslim (no.
1864) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha.
[18]. Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal. 44-73)
oleh Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, cet. II/Daar Ulama’ Salaf, th. 1414 H.
[19]. Lihat al-Jihad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghaayatuhu (I/56) oleh
Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadir.
[20]. Lihat Risaalatul Irsyaad ilaa Bayaanil Haqq fii Hukmil Jihaad (hal.
89-90) oleh Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, Taudhiihul Ahkaam Syarah
Bulughul Maram (VI/331-332) syarah ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman al-Bassam, cet
V/Maktabah al-Asadi, th. 1423 H.
[21]. Lihat al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 487) oleh
‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. III/Daar Ibnu Rajab, th. 1421 H.
[22]. HR. Al-Bukhari (no. 1520), Ibnu Majah (no. 2901) dan Ahmad (VI/165),
lafazh ini miliki Ibnu Majah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: