• Anda Pengunjung ke-

  • Peta Lokasi

  • a

  • Karya tulis

  • Komentar Anda

    maziesolis45696 on A – Z success
    Alfa trophy on Benda Itu bernama Plakat.…
    Bodin Lingga@ Bintan… on Benda Itu bernama Plakat.…
    abdul aziz on Kisah Katak dan Rembulan …
    abdul latif on Hidup Mandiri
  • Motto hidup

  • Link

Trenyuh, kisah penjaja Koran…

Siang itu… waktu menunjukkan pukul 12.36. Terik matahari memang tidak terlalu menyengat… Angin bertiup kencang… Di atas langit bergelanyut awan hitam pertanda hujan akan mengguyur kota surabaya….

Rencananya aku hari ini hendak ke gramedia… mencari kado untuk dosen pembimbing TA-ku… Di perempatan jalan di depan kantor RCTI… tepatnya di jalan raya kertajaya indah… Seperti biasa banyak anak-anak yang menjajakan koran dan juga meminta-minta… Di sana juga ada orang yang tua…

Namun, perhatianku tertuju pada seorang pemuda (Dugaanku umurnya tidak jauh berbeda denganku jadi aku menyebutnya pemuda…) yang duduk di semak-semak rerumputan di bawah tiang lampu lalu-lintas…. Pemuda itu terlihat (maaf….) menyedihkan…. Badannya gosong… (mungkin karena terlalu sering terkena sinar matahari..), kakinya kecil… dan badannya kurus…

Yang membuatku trenyuh adalah… matanya tidak bisa melihat atau buta… Dia sedang enak memakan sebuah dadar jagung (masakan gorengan yang renyah bila disantap dengan nasi lodeh…) dan dilahap dengan petis di atasnya…. Meski di tengah keramaian kota… dia seakan tidak peduli dan memakan dengan lahap….

Aku berfikir… betapa beruntungnya aku… Meski sekarang akan genap berusia 23 tahun… Namun aku masih (alhamdulillah…) beruntung bila dibandingkan dia… Aku dapat menuntaskan pendidikan ku hingga ke Perguruan tinggi… Meski di rumah masih dapat dikatakan kekurangan,,, namun aku tidak pernah turun ke jalan dan meminta-minta…. Sungguh ini adalah anugerah ALLAH SWT yang harus aku syukuri….

Continue reading

Kisah Katak dan Rembulan (Kiasan)

Semua bermula dari tatapan mata antara si Katak dengan si Rembulan. Tampaknya baru pertama kali ini si Katak merasakan gelora dalam dadanya yang disebabkan oleh tatapan itu. Sang Katak merasa terpesona dengan senyuman si Rembulan.

Tentu sebuah awalan yang manis dialami si Katak karena dia baru pertama kali ini merasakan perasaan yang menghangatkan hatinya. Dengan sikap yang baik yang ditunjukkan oleh Rembulan, si Katak berpikir kalau inilah surga. Inilah kebahagiaan. Rembulan selalu menyinari Katak di malam hari dan si Katak pun telah melayang memuja si Rembulan. Tanpa sadar si Katak pun bermimpi kalau dirinya kini telah meninggalkan rawa yang kotor itu, naik ke langit menemani Rembulan.

Sejenak yang awalnya hanya saling sapa, berlanjut curhat dan ngobrol. Hal ini membuat hati si Katak berbunga-bunga, tiada menyangka kalau si Rembulan akan menyambut baik perasaannya. Namun perlu diingat bahwa Katak tidak seharusnya di langit. Katak seharusnya di rawa. Dan Rembulan tetap bergelayut di langit yang tinggi itu. Si Katak pun hilang kesadaran. Tak peduli akan keadaan. Dia terus merindukan Rembulan dan berharap keadaannya kan lebih baik dan mereka berdua dapat bersama selamanya.

Continue reading

Hidup Mandiri

Beberapa minggu yang lalu aku mutusin untuk kontrak sendiri… Meskipun dengan biaya yang membebani aku seneng bisa kontrak… Belajar untuk mandiri…. Pada awalnya sih canggung waktu kontrak sama temen-temen yang belum aku kenal (maklum, aku kontrak sama temen-temen dari jurusan lain), tapi yaahhh lama-lama enak juga kok… Mereka baik.

Aku sendiri saat di rumah selalu nyuci baju sendiri, tapi aku gak pernah menyetrika.. apalagi sampai makan di warung… Yaaahhh Kayaknya klo aku pengen kontrak, kebiasaan itu bakalan aku lakuin…;p

Yahhh sebenernya kontrak tuh meyenangkan banget kok… Apalagi deket kampus… Jadi klo mau berangkat bisa cepet nyampe kampus…. Bisa juga pas telat, kita gak perlu buru-buru;;p

Alasan kenapa aku kontrak sebenernya tuh aku pengen bisa make komputer.. Maklum, listrik di kosnya tempat ibu ama aku tuh mati terus, jadinya gak bisa make komputer…. Terus sama yang punya kos-kosan gak boleh deh pake komputer… Akhirnya dengan terpaksa, aku cari kontrakan,,,, yaaahhh Alhamdulillah bisa dapet.

Banyak juga sih keuntungan yang aku dapet kalo aku ngntrak… contohnya : aku gak perlu malem-malem ke labkom buat ngerjain tugas… Karna d kontrakan ada komputer… jadi bisa ngerjain di sana.. Apalagi sejak kecelakaan malem itu… Ketika aku mau ke kampus malem-malem mo ngerjain tugas… ehhh aku ditabrak sepeda motor.. untungnya aku gak sakit parah.. hanya lecet di tangan aja…. Maka dari itu, dengan kontrak dan bisa pake komputer di sana, aku gak perlu malem-malem musti ke kampus…

Aku juga bisa belajar dengan tenang… Di kontrak an aku akan bisa belajar sepanjang waktu… baik malam atau siang… No Problemo…. Yang pasti dengan kontrak… masalah belajar bisa aku atur dengan baik…

Kontrakanku juga deket dengan masjid… Jadi tiap kali shaat aku bisa shalat berjamaah…. berbeda bila di rumah (kos ibu) yang jauh dari masjid…

Yahhh, meskipun demikian aku berharap dengan kontrak, aku bisa mendapat maanfaat, baik untukdiriku, keluarga maupun untuk kepentingan ummat. Insya Allah.

Mengenal Rasulullah secara Fisik

Rasulullah saw tidak jangkung dan tidak pula terlalu pendek.Warna kulitnya putih bersih dan tidak terlalu coklat dan tidak terlalu putih (pucat). Maksud dari putih bersih adalah tidak ada noda kuning atau merah atau juga noda warna-warna lain. Sebagian ada yang mengatakan kulit Nabi kemerah-merahan.

Keringat yang keluar dari wajah beliau bagaikan butir-butir mutiara, wanginya melebihi wangi minyak misik.Rambut beliau sangat indah, tidak keriting dan tidak pula lurus, yaitu ikal. Rambut beliau sampai menyentuh pundak, tetapi pendapat yang lebih kuat mengatakan bahwa rambut beliau sampai daun telinga. Terkadang beliau menguncir empat dan terkadang dibiarkan tergerai di telinganya. Uban yang ada di kepala dan jenggot tidak lebih dan kurang dari tujuh belas helai.

Beliau memiliki paras yang indah (ganteng) dan bercahaya. Tidak ada yang mampu menggambarkan wajahnya kecuali membandingkan dengan bulan purnama. Kulit wajahnya sangat halus, sehingga ketika marah dan senang sangat terlihat sekali. Keningnya lebar. Lekuk kedua alisnya sangat indah, di antara dua alisnya berkilat bagaikan perak, lebih-lebih ketika tertawa.

Memiliki bulu mata yang lentik. Hidungnya tidak mancung dan tidak pesek. Giginya tersusun rapi, ketika tertawa terlihat bercahaya dari giginya yang putih.Memiliki bibir yang paling indah dan menawan. Pipinya lembut. Kedua rahangnya tidak terlalu panjang dan tidak pula tembem.

Memiliki jenggot yang lebat. Karena beliau sangat suka memelihara jenggot dan menggunting kumis. Lehernya sangat indah, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Setiap kali terkena sinar matahari dan hembusan angin, lehernya berkilau seperti perak bercampur emas.

Memiliki dada yang bidang, tegak bagaikan cermin dan putih bagaikan bulan. Di antara dada dan pusarnya tidak ada rambut. Punggungnya lebar, di antara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian, yaitu di sebelah pundaknya yang kanan.Telapak tangan beliau sangat lembut melebihi lembutnya sutra dan wangi seperti parfum. Setiap orang yang bersalaman dengannya akan merasakan wanginya sepanjang hari. Apabila tangannya diletakkan di atas kepala anak kecil maka kepala anak itu berbeda dengan kepala anak-anak lainnya karena aroma wangi yang keluar dari kepalanya.

Ketika berjalan, seperti seorang sedang turun dari bukit, tegap dan tenang. Tanpa ada kesombongan yang terlihat dari jalannya.

Maraji’: Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa

ANJURAN SHOLAT PADA PERMULAAN WAKTU

Rosulullah Saw bersabda, “Permulaan waktu adalah ridho Allah, tengah waktu
adalah rahmat Allah, dan akhir waktu adalah ampunan Allah yang Maha Mulia
dan Maha Agung.” (HR. Daruquthni)

Rosulullah Saw bersabda, “Amal yang paling utama adalah sholat pada waktunya
berbakti kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad)

Dalam hadisnya Bazzar berkata, “Kemudian Nabi Muhammad saw datang pada suatu
kaum yang dipacah kepalanya dengan batu. Ketika kepala itu pecah kemudian
pulih kembali seperti semula, begitu seterusnya.” Rosulullah Saw bertanya,
“Wahai Jibril, siapakah mereka itu ?” Mereka itu adalah orang-orang yang
merasa berat kepalanya untuk mengerjakan sholat.” (Jawazir, hal. 114, Jilid
I)

Ibnu Abbas ra. Berkata, “Pada hari kiamat nanti, ada seorang laki-laki
disuruh berdiri di hadapan Allah. Kemudian Allah memerintahnya ke neraka.”
Maka dia berkata, “Wahai Tuhan, kenapa begini ?” Kemudian Dia (Allah)
berfirman, “Sebab kamu akhirkan sholat dari waktunya dan sebab sumpah
dustamu kepada-Ku.” (Jawazir, hal. 116, Jilid I)

Keterangan :
Bergegas mengerjakan sholat pada awal waktu, hukumnya sunat.
Mengakhirkan sholat hingga keluar waktunya dengan disengaja hukumnya haram.
Jadi kalau ada orang yang berangkat tidur setelah waktu sholat datang sedang
ia belum mengerjakan sholat dan tidak punya keyakinan bahwa di tengah-tengah
tidurnya nanti pasti ada orang yang membangunkan, maka berangkat tidur dalam
keadaan demikian itu hukumnya haram. Tetapi kalau ia punya prasangka bahwa
di tengah-tengah tidurnya nanti pasti ada yang membangunkan sebagaimana
biasa, maka tidurnya itu terkena hukum makruh, tidak haram.

Narasumber: Kitab “At-Targhiib Wat-Tarhiib”

Negeri impian

Seringkali aku memimpikan sebuah negeri yang memiliki sebuah daratan yang sangat hijau. Hamparan rumputnya luas sejauh mata memandang. Di dataran tinggi itu ku lihat betapa rindang pepohonan yang sejuk dan penuh bunga yang bermekaran. Pohon-pohon yang tumbuh di dataran tinggi itu sedang berbuah lebat sekali. Aku memetik salah satuubuah di pepohonan itu. Kugigit sedikit, kurasakan betapa buah itu sangat manis dan menyegarkan. Meski aku makan sedikit, rasa hausku menjadi hilang. Tubuhku segar kembali. Betapa aku sangat segar ketika itu. Kupandangi buah yang aku pegang itu. Buahnya tidaklah terlalu besar. Sebesar buah rambutan, namun aku tidak tahu jenis buah apakah itu….

Paradise

Aku palingkan muka-ku ke arah yang lain. Di sisi kanan dataran tinggi itu aku lihat terdapat sungai yang mengalir. Gemericik suaranya terdengar sampai ke tempatku. Aku beranjak mendekati sungai itu. Betapa aku terpukau… Ternyata di sana banyak hewan yang sedang minum di sungai itu. Kuperhatikan ada kuda,  beberapa ekor burung (yang sekali lagi aku tidak tahu jenis nya),  dan masih banyak lagi…. Aku bertanya dalam hati, apakah mereka mengetahui kehadiranku….???

Hati ini menjadi senang, takut sekaligus berdebar-debar tatkala aku menghampiri kawanan binatang-binatang yang sedang minum itu…. Perlahan aku mencoba mendekati kawanan kuda…. Ku lihat, mereka sepertinya sedang kecapaian… Mungkin mereka baru saja berlari… Lalu mereka singggah di sungai itu untuk minum…. Kudekati salah satu kuda.. anehnya mereka tidak merasa takut padaku… Kubelai  kepalanya… Perlahan kuusap rambut yang ada di kepalanya…  Mereka meringkih kecil, agak menarik  diri namun tidak lari…. Mereka sepertinya senang aku belai…. Aku terseyum kepada mereka… Entah kenapa kulakukan tapi aku senang sekali….

Kulihat sekitarku… Beberapa burung sepertinya hendak terbang…. Mereka sepertinya sudah tidak haus lagi dan ingin segera terbang lagi… Mengarungi negeri itu…. Mencari koloni dan makanan…

Kulanjutkan perjalananku berkeliling ke negeri itu…. Aku beranjak ke sebuah desa kecil di balik bukit di sana… Kulihat jajaran rumah yang tertata rapi dan perairan yang teratur di suasana desa yang cukup ramai itu… Kulihat di tengah desa ada monolite yang tegak berdiri menjulang tinggi.. Terdapat gambar-gambar bagunan dan  orang yang memakai bulu tebal sedang membawa tombak dan melotot ke arahku… entah apa arti gambar itu. Kulihat juga ada tulisan yang di pahat di bawah gambar itu…. Bahasanya tidak aku pahami…. Ketika aku melihat monolite itu… Tak sengaja kulirik ke samping ada seorang anak kecil yang melihatku…. Dia tersenyum ramah kepadaku…. Tak kusangka, ternyata selama aku memperhatikan gambar pada monolite itu, ada anak kecil yang melihatku… Mungkin di merasa asing melihatku…

” Hello…..??” Kusapa dia. Namun, dia tidak menjawab. Aku lambaikan tanganku…. Dia balas melambai. Sepertinya dia tidak mengerti bahasaku. Dia tersenyum lagi. Kubalas senyumannya. Kudekati dia.. Namun, dia justru berlari meninggalkanku. Aku terdiam sesaat… memikirkan apa yang baru saja aku alami. Namun aku cukup interest dengan desa ini… Entah kenapa aku seperti di rumah sendiri.

Kuperhatikan sekelilingku…  Kulihat disamping kanan agak jauh disana ada pasar. Ku beranjak ke sana. Tampak orang-orang sibuk menjajakan barang dagangannya dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Beberapa wanita tampak memperhatikanku. Aku sedikit tersenyum kepada mereka.. namun, mereka justru tertawa terkikik. Aku jadi tertegun sesaat. Namun, tanpa basa-basi aku terus melanjutkan perjalananku, berkeliling pasar itu. Aku lihat berbagai sayuran, barang kerajinan dan berbagai barang dagangan lain di depan rumah dagang itu…. Di ujung jalan kulihat ada semacam warung…  Namun anehnya, tiap meja kulihat gambar motif yang sama ketika aku lihat di monolite itu. Tampaknya orang tua itu sangat dihargai oleh masyarakat desa ini. Terbukti bila kuperhatikan lebih jelas lagi ternyata banyak sekali gambar orang tua membawa tombak itu. Mungkin mereka menganggap orang itu sebagai pahlawan bagi mereka. Aku juga memperhatikan, tiap-tiap rumah dilengkapi dengan tombak yang digantung di samping pintu. Entah apa artinya hal itu… Aku bertanya-tanya dalam hati…

Negeri itu dihuni oleh masyarakat yang sangat ramah. Tiap orang saling menyapa ketika bertemu dengan orang lain. Selain itu, kulihat di jalan-jalan tampak bersih sekali. Tidak  ada satu pun sampah yang berserakan…

Continued…

Mencari Pahlawan Indonesia

FlowerFlowerFlowerFlower

Menjadi Pahlawan bukanlah takdir, tetapi sebuah pilihan.

-Anis Matta-

Sebuah buku yang bagus yang mengupas tentang pahlawan dan bagaimana kita mencari pahlawan yang kita butuhkan untuk kemajuan Indonesia ini. Di buku itu disebutkan tentang criri-ciri pahlawan. Ada dua hal yang mendasar dari seorang pemimpin.

Pertama, pemimpin yang sudah ditakdirkan leh Allah SWT sebagai seorang pemimpin. Disini, dapat diidentifikasi bahwasanya, orang yang sejak lahir sudah ditetapkan sebagai seorang pemimpin, memiliki postur tubuh yang kekar, badannya yang kuat, dan sebagainya… contoh pemimpim seperti ini adalah Rasulullah SAW. Dikisahkan dalam sebuah hadis bahwasanya Rasulullah itu memiliki postur yang tinggi dan leher yang kekar… Namun beliau masih kalah tinggi bila dibandingkan dengan Umar bin Khattab.

Kedua, seorang pemimpin dapat pula dilatih. Artinya seorang pemimpin dapat dibentuk melalui pengalaman, pelatihan, edukasi dan sebagainya. Sifat kepemimpinan ini umumnya muncul ketika dalam keadaan terdesak. Contoh pemimpin ini adalah ir. Soekarno dimana dia di desak oleh pemuda untuk memplokamirkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam proses belajar menjadi seorang pemimpin kita tentu saja belajar dari kepemimpinan Rasulullah SAW. Ini adalah sebuah kisah perjalanan kepemimpinan Muhammad…

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam

oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim

Bismillahirrahmanir rahim

Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sahbihi wasallim

Setelah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. Terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melipat sorbannya
lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab “ilmu pengetahuan. ”

Tentang Utsman, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”.
Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau. Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu. ” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. Janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”

Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau
mendengarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya
membiarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah! Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi  sallAllahu’alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu’alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya.
Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab NabisallAllahu ‘alayhi wasallam? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu. ” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian,
ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi sallAllahu ‘alayhi
wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata, “Lakukanlah! ”

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu ‘alayhi
wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…..

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “Benar ya Rasul!”

Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah. ..Ya Allah saksikanlah. ..Ya Allah saksikanlah! “. Nabi sallAllahu’alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah. ..Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”

  Flower  Flower  Flower  Flower